MASJIDAKBAR.COM– Ada seorang teman, ya, boleh dibilang baru melek agama. Di usianya yang menginjak kepala enam, ia begitu bersemangat beribadah. Sebisa mungkin ia shalat berjamaah di masjid. Bersedekah nyaris setiap saat untuk tetap menjaga rasa murah hati dan komunikasi dari hati ke hati dengan orang yang menerimanya. Menurutnya, berhubungan dengan Allah itu mengasyikkan. Ia bisa mencurahkan segala isi hatinya, semua uneg-uneg yang dipendamnya, sehingga ia merasa plong ketika selesai mengadu terutama pada saat shalat malam.

Sampai suatu ketika ia mengungkapkan ingin mewakafkan seluruh harta miliknya, karena melihat masyarakat yang sangat membutuhkan, dan ia merasa terpanggil untuk berkontribusi memenuhi kebutuhan tersebut. Ia pun kemudian menemui seorang ustadz dan mengutarakan niatnya untuk mewakafkan seluruh aset yang ia miliki. Sang ustadz kemudian memberi penjelasan bahwa dalam Islam terdapat batasan dalam memberikan wasiat yaitu maksimal 1/3 dari harta yang dimiliki, karena kalau lebih dari 1/3-nya maka akan merugikan pihak lain yang berhak atas hak waris tersebut. Terkecuali ahli warisnya mengizinkan, maka hal itu tidak menjadi masalah.

Ustadz juga menerangkan sebuah riwayat yang disampaikan oleh Sa’d bin Abi Waqash. Suatu saat Sa’d bin Abi Waqash meminta izin kepada Rasulullah untuk mewasiatkan dua pertiga hartanya. Rasul mengatakan, “Tidak boleh.” Lalu Sa’d berkata lagi, “Kalau begitu sepertiganya.” Rasulullah SAW bersabda, “Sepertiganya. Sepertiga itu cukup banyak. Sesungguhnya jika engkau meninggalkan para ahli warismu dalam keadaan kaya (berkecukupan), hal itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga meminta-minta kepada orang lain.”

Begitulah, niat mulia yang menurut kita baik pun tetap harus mengikuti aturan agama. Islam telah menetapkan aturan yang adil dan juga memberi kemaslahatan kepada semua pihak. (ilh)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here